E Sport Trending – Di tahun 2026, memilih antara PC atau console jadi makin membingungkan dibanding dulu. Harga komponen naik, tren game berubah, dan kebutuhan tiap gamer pun beda-beda.
Buat gamer baru atau yang mau upgrade perangkat, satu hal langsung kerasa: budget sekarang cepat banget habis. Alhasil, perdebatan lama soal pilihan paling worth it pun muncul lagi, tapi dengan situasi yang berbeda dari sebelumnya.
Di satu sisi, console generasi terbaru masih dijual dengan harga yang cukup stabil. Tapi di sisi lain, PC gaming makin mahal karena faktor yang nggak kelihatan secara langsung. Salah satunya adalah harga RAM yang naik tajam sejak akhir 2025. Situasi ini bikin banyak orang mikir ulang soal beli perangkat gaming tahun depan.
Untuk Sekarang Harga Console Lebih Bersahabat
Kalau dilihat dari pembelian awal, console masih unggul. PlayStation 5 dan Xbox Series X dijual sudah siap main, lengkap dengan controller dan ekosistem game yang langsung jalan. Nggak perlu keluar biaya tambahan buat rakit atau atur komponen.
Ceritanya beda kalau ngomongin PC. Build PC gaming entry level sekarang bisa cukup mahal, tergantung speknya. Kenaikan ini bukan terjadi mendadak. Salah satu penyebab utamanya adalah harga RAM yang melonjak sejak Desember 2025. DDR5 bahkan naik hampir dua kali lipat dalam waktu singkat karena permintaan tinggi dari industri AI dan data center.
Situasi ini bikin PC gaming entry level jadi mahal. Padahal, RAM adalah komponen wajib supaya game modern bisa jalan lancar. Kapasitas 16 GB sekarang sudah jadi standar, sementara 32 GB mulai dianggap aman buat multitasking. Begitu harga RAM naik, biaya rakit pun ikut terdorong naik.
Kalau dibandingkan langsung, biaya PC gaming dan PS5 di 2026 terasa timpang buat pemula. Console kasih pengalaman main instan tanpa biaya tambahan yang bikin kaget. PC memang tetap menarik, tapi modal awalnya jauh lebih berat.
Karena itu, banyak orang dengan budget terbatas mulai melirik console sebagai pilihan paling masuk akal, apalagi buat yang ingin langsung main tanpa ribet ngatur komponen.
Performa Tinggi Di PC, Namun Console Menang Dalam Konsistensi
Kalau soal performa, PC memang masih juaranya. Pakai GPU kelas atas, main di 4K dengan frame rate di atas 120 FPS bukan masalah besar.
Game kompetitif memang terasa lebih responsif di PC, apalagi buat pemain yang ngejar presisi dan latency rendah. Secara spesifikasi, keunggulan ini susah di bantah.
Masalahnya, performa tinggi itu datang dengan harga yang nggak murah. Naiknya harga RAM bikin build PC yang benar-benar optimal makin mahal. Game modern sekarang butuh GPU kuat dan memori besar supaya stabil. Saat 16 GB RAM sudah terasa mepet, biaya upgrade pun mulai kerasa berat.
Console punya pendekatan yang berbeda. PlayStation 5 dan variannya di buat dengan optimasi khusus, jadi developer sudah tahu persis hardware yang di tuju. Hasilnya, performa lebih konsisten tanpa perlu ribet ngatur setting. Walau frame rate-nya nggak setinggi PC kelas atas, pengalaman mainnya tetap stabil dari awal sampai akhir.
Di 2025, banyak game AAA yang performa console-nya sudah setara PC mid-range. Buat pemain kasual, perbedaan visualnya sering kali nggak terlalu kelihatan di TV ruang tamu. Tanpa ribet mikirin driver, BIOS, atau kompatibilitas, console itu praktis, tinggal main dan game berjalan seperti yang di harapkan.
PC tetap unggul buat yang ngejar performa mentok. Tapi di kondisi pasar sekarang, console justru menawarkan keseimbangan yang lebih masuk akal antara kualitas grafis dan biaya.
Fleksibilitas PC Goncang Karena Harga RAM
Salah satu alasan klasik orang memilih PC adalah fleksibilitas. Komponennya bisa di ganti satu per satu, mulai dari RAM, GPU, sampai CPU, tanpa harus beli perangkat baru.
Dengan strategi yang tepat, satu PC bisa di pakai selama lima sampai tujuh tahun. Dulu, cara ini sering di anggap lebih hemat di banding harus beli console baru tiap ganti generasi.
Tapi situasinya berubah di 2026. Harga RAM yang naik bikin skema upgrade nggak lagi terasa ringan. Kit DDR5 16 GB yang dulu masih murah sekarang harganya melonjak drastis.
Bahkan buat pengguna PC lama, upgrade sederhana saja sekarang bisa terasa mahal. Fleksibilitasnya masih ada, tapi biayanya ikut membengkak.
Console punya pendekatan yang berbeda. Perangkat seperti PlayStation 5 atau Xbox Series X memang nggak bisa di-upgrade secara signifikan.
Meski begitu, stabilitas harga jadi nilai plus. Pengguna tahu apa yang mereka beli dan seberapa lama perangkat itu masih relevan, tanpa perlu nambah komponen di tengah jalan.
Situasi ini akhirnya bikin banyak orang mikir ulang. PC memang masih unggul buat ngikutin teknologi baru, termasuk tren AI-enhanced gaming. Tapi dalam jangka pendek, biaya upgrade yang mahal bikin PC kurang ramah buat pengguna dengan budget terbatas.
Buat calon pembeli yang lagi bingung pilih PC atau console, pertanyaan besarnya sekarang bukan soal upgrade atau tidak, tapi seberapa besar biaya yang siap di keluarkan dalam beberapa tahun ke depan.
Portabilitas & Fungsi
Portabilitas sekarang jadi pertimbangan penting. Console seperti Nintendo Switch bisa di bawa ke mana saja buat main. Tanpa setup ribet, perangkat ini pas buat sesi main singkat di luar rumah. Buat banyak pengguna, fleksibilitas ini terasa praktis banget.
PC punya fungsi yang lebih luas di luar gaming. Satu perangkat bisa di pakai buat kerja, editing, sampai streaming. Tapi kalau mau mobilitas setara console, pilihannya biasanya laptop gaming atau perangkat seperti Steam Deck. Masalahnya, harga perangkat ini ikut naik karena kebutuhan RAM yang makin tinggi.
Situasi ini kembali bikin PC tertekan di segmen harga menengah. Laptop gaming yang sanggup mainin game modern sekarang terasa makin mahal. Console, walau fungsinya lebih terbatas, masih menawarkan harga yang relatif stabil buat hiburan.
Perdebatan PC vs console memang nggak akan kelar dengan satu jawaban. Setiap pilihan pasti ada komprominya. Yang penting, sesuaikan saja dengan budget kamu. Kalau menurut kamu, platform mana yang paling masuk akal sekarang?
Sumber : ggwp.id







